Kamis, 23 Desember 2010

Obrolan Pagi Hari

Pagi ini azan subuh membangunkanku dari tidur nyenyakku. Seperti biasa, setelah salat subuh aku tidak langsung turun menuju lantai bawah, aku tetap berada di dalam kamar sambil mempersiapkan keperluanku untuk pergi ke kantor, namun pagi ini ada suasana yang berbeda dari biasanya. Mengapa aku tidak mendengar suara mama pagi ini? Kemana mama?

Setelah aku selesai mempersiapkan keperluanku, aku pun turun menuju lantai bawah rumah kami. Kudapati mama sedang menuju dapur, dan kuikuti langkah mama dari belakang. Belum sempat aku menyapa mama, tiba-tiba mama berkata : "pagi ini mama kesiangan, gara-gara semalam mama mandi pake air anget, mama jadi nyenyak tidurnya. Sampai-sampai kesiangan kaya sekarang nih" kata mama sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Aku jadi teringat peristiwa semalam. Semalam saat aku pulang dari kantor, mama memang belum mandi sore. Alasan mama sederhana, yaitu : dingin. Memang, beberapa hari belakangan ini, udaranya memang agak dingin, sehingga terkadang membuat malas mandi (hehehehe... )
Tetapi entah mengapa, tiba-tiba mama berkata : "tapi kalo mandi pake air anget enak kali ya?"
Mendengar mama berkata seperti itu, aku langsung memasak air dan menyiapkan air hangat itu untuk mama. Tak lama kemudian mama pun pergi mandi.
Peristiwa seperti ini memang sangat sedehana dan mungkin tidak terlalu penting, namun memiliki arti tersendiri untukku.

Belakangan ini memang aku dan mama sering bertukar cerita seputar kejadian yang kami alami sehari-hari, namun aku tak pernah merasa bosan menghabiskan waktu bersama dengannya. Ada kesenangan tersendiri bila berada di sampingnya dan mendengar ceritanya.


Karena...
Ketika engkau sudah tua, bukan lagi engkau yang semula.

Aku akan mengerti dan bersabar terhadapmu.


Ketika engkau lupa bagaimana mengikat tali sepatu, kuingat bagaimana dahulu engkau mengajarkanku bagaimana cara mengikatnya.


Ketika engkau berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah bosan aku dengar, aku akan bersabar mendengarkannya dan tidak memutus pembicaraanmu.
Kuingat semasa kecilku dulu, engkau selalu harus mengulang cerita yang telah beribu-ribu kali engkau ceritakan agar aku tertidur.

Ketika engkau memerlukan bantuanku untuk engkau mandi, aku tak akan marah kepadamu.
Kuingat semasa kecilku dulu, engkau harus memakai segala cara untuk membujukku agar aku mau mandi.

Ketika engkau tak paham sedikitpun tentang teknologi dan hal-hal baru, aku tak akan mengejekmu,
Terpikirkan olehku, bagaimana dahulu engkau begitu sabar menjawab setiap pertanyaan "mengapa" dari diriku.

Ketika engkau tidak dapat berjalan, akan aku ulurkan tanganku yang masih kuat untuk memapahmu. Seperti engkau memapahku saat aku belajar berjalan ketika aku masih kecil dulu.

Ketika engkau seketika melupakan pembicaraan kita, akan aku beri waktu untuk engkau mengingatnya.

Sebenarnya aku tahu, untukmu apa yang kita bicarakan tidaklah penting, asalkan aku berada di sampingmu untuk mendengarkan, engkau sudah sangat puas.


Ketika aku memandang wajahmu yang sudah mulai menua, aku tak akan berduka.

Aku akan mengerti dan mendukungmu seperti engkau menghadapiku ketika aku mulai belajar menjalani kehidupan.

Saat itu, engkau memberi petunjuk bagaimana cara menjalani kehidupan ini.

Dan sekarang, aku akan menemani engkau menjalankan sisa hidupmu.

Akan kuberi cinta dan kesabaranku, aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur, dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu.


Obrolan di pagi hari ini, membuat aku semakin bersyukur kepada Sang Khalik atas Anugerah Terindah yang aku miliki.
Maafkan putri kecilmu yang sampai saat ini masih sering mebuatmu cemas, marah dan mungkin kecewa. Namun aku berjanji : "Aku akan melakukan yang terbaik untukmu".

Terima kasih mamaku sayang. Engkau adalah "malaikat penolong" untukku...


Love you Mom



1 komentar:

  1. hiks..berkaca2 gw baca nih tulisan mey.. :((
    beruntunglah kalian yg masih memiliki "malaikat penolong"

    BalasHapus